KRITERIA INVESTASI


KRITERIA INVESTAS
Dihimpun dari berbagai sumber
oleh Ecep Jalaluddin Sy
SMK N 1 Mundu Cirebon 

1.    Menghitung Arus Uang Tunai (Cash Flow)

Cash flow adalah arus seluruh pengeluaran dan penerimaan proyek pada setiap satuan waktu proyek dari keseluruhan waktu yang direncanakan. Cash flow yang berupa penerimaan (pemasukan) disebut cash inflow / cash proceeds / cash income / cash receipts. Sedangkan cash flow yang berupa pengeluaran disebut cash out flow / cash disbursement / cash expenditure / cash cost.  Selisih dari cash inflow dan cash out flow disebut Net cash flow atau Aliran Kas Neto/Bersih.       

                                                                          

Komponen cash inflow antara lain adalah hasil produksi, pajak terhutang, pinjaman, modal sendiri, nilai sisa dari aktiva (Salvage value) dan kadang-kadang juga dimasukan penyusutan aktiva. Komponen dari cash outflow antara lain adalah investasi proyek, pelunasan pajak, pelunasan pokok pinjaman dan bunga dan Replacment (penggatian aktiva). Dari perhitungan tersebut dalam cash flow ini akan diketahui Surplus minus kas (kas awal dan kas akhir) serta saldo Debet Kredit (sisa pinjaman).


2.   Analisis Kriteria Investasi

Kriteria investasi merupakan indeks-indeks untuk mencari suatu ukuran tentang baik tidaknya atau layak tidaknya suatu proyek (usaha). Karena itu penentuan layak tidaknya suatu usaha yang direncanakan akan dilaksanakan atau tidak ditentukan oleh kemungkinan keuntungan finansial yang dapat diperoleh. Menilai kelayakan usaha adalah cara yang ditempuh untuk menentukan layak (feasible) tidaknya suatu usaha dilaksanakan. Pada umumnya, apabila penilaian kelayakan usaha dilakukan dengan benar dan hasilnya menunjukkan bahwa usaha yang direncanakan itu layak untuk dilaksanakan, maka pelaksanaannya jarang mengalami kegagalan, kecuali penilaian kelayakan usaha dilakukan dengan data yang tidak benar dan/atau karena adanya faktor-faktor yang tidak dapat terkontrol, misalnya terjadi bencana alam.
Ada beberapa kriteria yang biasa digunakan untuk menentukan kelayakan usaha melalui analisis manfaat finansial. Dari sekian banyak kriteria tersebut ada empat yang paling banyak digunakan. Setiap kriteria/indeks menggunakan present value (nilai kini) yang telah di-discount dari arus manfaat (penerimaan) dan biaya selama umur proyek. Ada banyak indeks kriteria Investasi yang dapat digunakan. Namun tidak satupun dari berbagai kriteria tersebut disetujui orang secara universal sebagai yang bermanfaat di dalam setiap keadaan. Setiap kriteria mempunyai kebaikan serta kelemahan. Si penilai proyek harus memutuskan kriteria manakah yang paling tepat digunakan sesuai dengan keadaannya.
Lima kriteria Investasi yang paling banyak digunakan adalah :

1.    Net Present Value (NPV) dari arus manfaat dan biaya.

2.    Internal Rate of Return (IRR)

3.    Net Benefit – Cost Ratio (Net B/C)

4.    Gros Benefit – Cost Ratio (Gros B/C)

5.    Profitability Ratio (PV/K)


Dari lima kriteri tersebut, ketiga kriteria pertama (NPV, IRR dan B/C) lebih dapat dipertanggungjawabkan untuk penggunaan-penggunaan tertentu, sedangkan yang kedua terakhir (Gros B/C dan PV/K) mendapat kritik dari segi teorinnya.


Setiap kriteri tersebut digunakan untuk menentukan diterima tidaknya (layak tidaknya) suatu rencana proyek yang diusulkan dipandang dari aspek profitabilitas komersil.

  1. Konsep Nilai Waktu dan Uang
      Untuk proyek jangka panjang, pembahasan konsep Nilai Waktu dan Uang merupakan hal yang penting. Waktu sangat berharga bagi manusia pada umumnya dan bagi pemikir ekonomis khususnya karena akhirnya masalah waktu tersebut mempunyai kaitan yang sangat erat dengan uang. Peranan dan hubungan antara waktu dan uang ini menimbulkan pemikiran bahwa orang-orang lebih menghargai uang yang dimiliki sekarang dari pada masa yang akan datang. Sebagai contoh kalau ditawarkan kepada kita mana yang lebih suka, menerima uang Rp 1000,- saat ini atau menerima Rp 1000,- nanti tahun depan. Tentu jawabannya lebih suka menerima Rp 1000 saat ini. Keputusan ini diambil tentunya karena walaupun nominal uang tersebut sama yaitu Rp 1000,- antara saat ini dan tahun depan, tetapi nilai riilnya (daya tukar) berbeda (berubah). Kalau uang Rp 1000,- saat ini dapat membeli 2 kg beras, mungkin tahun depan hanya dapat membeli 1,5 kg beras engan kualitas yang sama.

      Penurunan nilai riil mata uang tersebut antara lain terutama disebabkan oleh inflasi. Semakin tinggi tingkat inflasi semakin besar pula penurunan nilai mata uang. Contoh lain yang berhubungan dengan masalah ini adalah kalau inflasi meningkat, maka umumnya bank-bank harus memberikan suku bunga simpanan (misal deposito, tabungan) yang makin tinggi agar masyarakat tetap bersedia menyimpan uangnya di bank. Apabila tingkat bunga simpanan lebih rendah dari tingkat inflasi, maka tidak akan ada seorangpun yang bersedia menyimpan dananya di bank.

      Apa peranan konsep tersebut dengan perencanaan/analisa proyek ?  Inti dari perencanaan adalah menentukan apakah dan sampai berapa jauhkah proyek tersebut memberikan manfaat (penerimaan) yang lebih besar daripada biayanya kepada pemiliknya.  Untuk menentukan ada tidaknya dan tingkat dari manfaat bersih itu perlu kita bandingkan arus manfaat dari proyek-proyek tersebut dengan arus biayanya.  Tetapi timbul pertanyaan bagaimanakah cara membandingkan biaya yang harus dikeluarkan saat ini  (investasi) dengan manfaat (penerimaan) yang akan diterima baru beberapa tahun kemudian ?

      Kalau kita perhatikan kembali contoh dari kedua kasus inflasi, ternyata tingkat bungalah yang memungkinkan kita untuk membandingkan arus biaya dan manfaat yang penyebarannya di dalam waktu yang tidak merata.  Untuk setiap nilai tingkat bunga “i” dan setiap jangka tahun selama bunga itu diasumsikan telah/akan didapat/dibayar, terdapat suatu discount factor yang unik.  Discount factor  ini telah ada yang dibuat dalam tabel, antara lain yang diterbitkan oleh Word Bank dengan judul Compounding and Discounting Table for Project Evaluation.  Sehubungan dengan  itu, dalam hal ini akan dijelaskan dua pengertian penting melalui contoh-contoh, yakni Compounding Intertest Factor dan Discounting Factor.
      Compounding Intertest disebut juga bunga majemuk atau bunga berbunga adalah bunga yang menunjukkan bahwa bunga dari suatu pokok pinjaman akan dikenakan bunga lagi pada periode berikutnya.         Contoh  jika  pokok  pinjaman Rp 100,- dengan  tingkat bunga 12 %/th, maka sesudah satu tahun jumlah yang harus dikembalikan adalah

   Rp 100,- + 12 % x Rp 100,-
= Rp 100,- (1 + 12 %)
= Rp 112,-

 

Kalau pinjaman itu akan dikembalikannya setelah dua tahun, maka bunga yang        Rp 12,- akan kena bunga lagi, sehingga jumlahnya menjadi:

    Rp 100,- (1 + 12 %) ( 1 + 12 %)
= Rp 100,- (1 + 12 %)²
= Rp 100,0 (1 + 0,12)²
= Rp 125,44

Seandainya jumlah semula (Rp 100,-) disebut P (Pressent amount), jumlah tahun selama uang dipinjam disebut n, jumlah yang harus dikembalikan disebut                     F (Future amount) dan tingkat bunga disebut i (interest), maka perhitunan di atas dapat ditulis dengan rumus:
                                                                            
F = P (1 + i ) n
          
(1 + i ) n disebut Compounding Factor,   yakni   suatu  bilangan yang lebih  besar dari satu (1,0) yang dapat dipakai untuk mencari suatu jumlah yang akan datang (F) berdasarkan jumlah sekarang (P) setelah diberi bunga berbunga pada setiap akhir tahun (n). 

Sedangkan dalam perencanaan/analisa proyek yang diketahui bukan P malainkan F (besarnya nilai di masa yang akan datang).  Dengan demikian untuk mencari nilai P (Nilai Sekarang= Pressent Value) rumusnya menjadi:
                                                
P =       F                  
                   
          (1 + i ) n

 P      =   F      1
                   (1 + i ) n
    1
(1 + i ) n     disebut Discount Factor (DF), yakni suatu bilangan yang kurang dari satu (1,0) yang dapat digunakan untuk mencari nilai sekarang (P) dari nilai masa yang akan datang (F).  Dengan demikian maka rumusnya menjadi:

P = F x DF


1)    Net Persent Value (NPV)
Net Present Value (NPV) atau nilai sekarang bersih adalah analisis manfaat finansial yang digunakan untuk mengukur layak tidaknya suatu usaha dilaksanakan dilihat dari nilai sekarang (present value) arus kas bersih yang akan diterima dibandingkan dengan nilai sekarang dari jumlah investasi yang dikeluarkan. Arus kas bersih adalah laba bersih usaha ditambah penyusutan, sedang jumlah investasi adalah jumlah total dana yang dikeluarkan untuk membiayai pengadaan seluruh alat-alat produksi yang dibutuhkan dalam menjalankan suatu usaha.    
             
Untuk menghitung NPV dari suatu usaha diperlukan data tentang: (1) jumlah investasi yang dikeluarkan, dan (2) arus kas bersih per tahun sesuai dengan umur ekonomis
Rumus dari NPV adalah:

            n                I                           n                   n
     Σ        (1 +  i  )t      =    Σ  PVNCF    ─  Σ PVI                       
           t =                                      t = 1            t = 0
 
  n             NCF       
Σ       (1 +  i  )t    
t  =1    

di mana:

NCF       =  Net Cash Flow/Arus Kas Bersih= (laba setelah pajak + 
                  penyusutan) dari tahun pertama sampai tahun ke n
I              =  Pengeluaran investasi dari tahun awal (0) sampai tahun ke n
n            =  Umur ekonomis dari proyek
i             =  Tingkat Diskonto (discount factor  “DF”) =  tingkat bunga     
                  /social opportunity cost of capital yang ditunjuk
                 Social Discount  Rate   (tingkat   bunga umum)
PVNCF Present Value dari NCF
PVI         Present Value dari Investasi    

Dalam analisis proyek,  NPV ≥ 0 dikatakan proyek layak untuk dilaksanakan dan NPV < 0 proyek tidak layak untuk dilaksanakan. Atau dengan kata lain, apabila nilai sekarang penerimaan bersih dari masa yang akan datang lebih besar dari pada nilai sekarang Investasi, maka proyek ini dikatakan menguntungkan, begitu pula sebaliknya.

2)    Internal Rate of Return
IRR adalah nilai discount rate i yang membuat NPV dari proyek sama dengan nol. Atau IRR merupakan tingkat bunga yang menyebabkan nilai sekarang Investasi (Net Investment Present Value) sama dengan nilai sekarang penerimaan bersih (Net Benefit Present Value) di masa mendatang.

IRR biasanya sulit diselesaikan (dicari nilai i nya) secara langsung, karena harus ada dua NPV, yakni NPV1 yang harus potitif dan  NPV2 yang harus negatif.  NPV1 adalah nilai NPV pada tingkat discount rate “i” yang sesuai dengan tingkat discount rate yang berlaku saat rencana usaha dibuat, sehingga menghitungnya lebih mudah.  Maka i-nya kita sebut sebagai i1 dan NPV-nya kita sebuat sebagai NPV2. Sedangkan  NPV2 adalah nilai NPV pada tingkat discount rate “i” yang harus dicari sampai ditemukan NPV-nya negatif.    Sehingga untuk menentukannya biasanya didekati dengan coba-coba melalui prosedur sebagai berikut :
a.         Pilih discount  rate i yang dianggap   dekat dengan discount rate i yang berlaku (biasanya naik satu tingkat discount rate), lalu dihitung NPV-nya. Jika NPV yang diperoleh positif berarti nilai percobaan pemilihan i tadi belum benar. Jadi harus dipilih i  yang lebih tinggi sampai diperoleh NPV negatif.  Jika sudah diperoleh NPV negatif,  maka kita sebut i-nya sebagai  i2 dan nilai NPV nya sebagai NPV2
b.         Dengan telah diperolehnya dua nilai NPV yang positif dan negatif maka IRR dapat diselesaikan dengan rumus :


 

IRR   =   i 1 +  ( i 2 – i 1)          NPV1             
                                          NPV1 + NPV2
      
Di mana:
i 1  =  Tingkat diskonto (tingkat bunga) yang menghasilkan NPV positif   
i 2 =   Tingkat diskonto (tingkat bunga) yang menghasilkan NPV negatif               

Jika ternyata IRR dari suatu proyek sama dengan nilai i yang berlaku sebagai social discount rate, maka nilai NPV dari proyek itu adalah sebesar nol. Jika IRR lebih kecil dari social discount rate, berarti NPV lebih kecil dari nol. Oleh karena itu suatu nilai IRR yang lebih besar dari / sama dengan (≥)  Social Discount Rate menyatakan tanda “Go” (layak) untuk suatu proyek, sedangkan jika IRR lebih kecil dari Social Discount  Rate berarti proyek itu “No Go” (tidak layak).



3)    Net Benefit – Cost Ratio (Net B/C)
Net B/C adalah suatu metoda untuk melihat berapa besar benefit yang dapat diperoleh dari setiap penanaman satuan biaya.

Analisis net B/C merupakan perbandingan antara presen value dari arus kas
bersih dengan present value  investasi yang dikeluarkan. Net B/C sering juga
disebut sebagai profitability indeksJadi, net B/C dihitung dengan rumus:
     
                             n
                               ∑ PVNCF
                             t = 1
      Net B/C =        
    n
                              ∑ PVI
                               t = 1
                                                                        
Jika perhitungan tadi memberikan hasil = 1, berarti NPV = 0. Dan jika hasilnya lebih dari satu, berarti NPV > 1.  Dengan demikian jika Net B/C ≥ 1 berarti merupakan tanda ‘Go’ (layak) untuk suatu proyek dan Net B/C < 1  berarti No Go (tidak layak).

         Contoh Aplikasi Penilaian Kelayakan Usaha
Untuk memahami bagaimana penilain kelayakan usaha diiakukan, cermati contoh berikut dengan seksama. Bila perlu diskusikan dengan teman-teman dan minta bimbingan guru untuk memahaminya.

Anggaplah A sedang merencanakan untuk menjalankan usaha angkutan kota. Untuk maksud tersebut, A berusaha memperoleh informasi lebih mendalam mengenai usaha angkutan kota tersebut. Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan dari beberapa pengusaha angkutan kota diperoleh data sebagai berikut:
     1. Jumlah biaya investasi untuk satu kendaraan angkutan kota bekas siap pakai mencapai RP 39.850.000,00 dengan umur ekonomis seiama 5 tahun. Di samping itu berdasarkan pengalaman, kendaraan setelah lima tahun masih memiliki nilai sisa dengan harga jual Rp 5.000.000,00.
2.  Biaya operasi dan pemeliharaan per tahun mencapai  Rp 4.620.000,00 dengan rinciannya per tahun adalah,
a.   Gaji sopir Rp 1.800.000,00 .
b. Biaya ban Rp 2.340.000,00.
c.   Biaya aki Rp 80.000,00.
b    Biaya perawatan Rp 120.000,00
Selama 5 tahun jumlah biaya operasi dan perawatan diperkirakan tidak berubah.
3.  Penyusutan kendaraan dilakukan dengan menggunakan metode garis lurus. Jadi Penyusutan kendaran per tahun = (harga beli aset - nilai sisa)/umur ekonomis = (39.850.000 - 5.000.000)/5 = Rp 6.970.000,00.
4.  Setoran rata-rata per hari Rp 55.000,00 dan sebulan dihitung 26 hari. Dengan demikian, perkiraan pendapatan per tahun adalah Rp 17.160.000,00.
5.  Sumber dana investasi seluruhnya dibiayai dari modal sendiri. Tingkat bunga kredit bank diketahui misalnya sebesar 19% per tahun. Berdasarkan data tersebut, A ingin mengetahui apakah rencana usaha angkutan kota tersebut layak atau tidak untuk dijalankan. Untuk maksud tersebut A menghitung perkiraan rugi/laba, perkiraan arus kas, dan analisis manfaat finansial terhadap rencana usaha angkutan kota tersebut.

Hasilnya dipaparkan melalui Tabel 1 sampai Tabel 4 sebagai berikut:










TABEL 1 Perkiraan Rugi/Laba Usaha Angkutan Kota (dalam Rp 000)

No
Keterangan
T a h u n
0
1
2
3
4
5
1
Pendapatan Usaha
a.  Setoran
b.  Nilai sisa

-

17.160

17.160

17.160

17.160

17.160
  5.000
2
Jumlah Pendapatan (Bt)
-
17.160
  17.160
17.160
17.160
22.160
3
a.  Biaya operasional dan perawatan
b.   Biaya penyusutan
-
-
4.620

6.970
4.620

    6.970
4.620

6.970
4.620

6.970
4.620

6.970
4
Jumlah Biaya (Ct)
-
11.590
11.590
11.590
11.590
11.590
5
LABA KOTOR (2) – (4)
-
5.570
5.570
5.570
5.570
10.570
6
Bunga Pinjaman
-
-
-
-
-
-
7
LABA SEBELUM PAJAK
-
5.570
5.570
5.570
5.570
10.570
8
Pajak
-
-
-
-
-
-
9
LABA BERSIH
-
5.570
5.570
5.570
5.570
10.570
10
ARUS KAS BERSIH (NCF)
(9) + ( Penyusutan  (D) )
-
  12.540
12.540
12.540
12.540
17.540
NCF = Net Cash Flow = (Bt – Ct) + D
TABEL 2.  Perkiraan Arus Kas Bersih Usaha Angkutan Kota

Tahun
Investasi
Arus Kas Bersih (NCF)
0
39.850.000,00
-
1
-
12.540.000
2
-
12.540.000
3
-
12.540.000
4
-
12.540.000
5
-
17.540.000­










                     TABEL 3.  Perhitungan Net Present Value Usaha Angkutan Kota
Tahun
Investasi
Arus Kas Bersih (NCF)
DF *)
19%
Present
Value
Investasi (PVI)
Present
Value NCF
{PVNCF}
0
 39.850.000

1
39.850.000
-
1
-
12.540.000
.8403
-
10.537.362
2
-
12.540.000
.7061
-
8.854.494
3
-
12.540.000
.5934
-
7.441.236
4
-
12.540.000
.4986
-
6.252.444
5
-
17.540.000
.4190
-
7.349.260
  Jumlah
39.850.000
      40.437.796

Perhitungan  NPV =
       n                                n
                Σ  PVNCF    ─  Σ  PVI                       
                t = 1              t = 0

= 40.437.796 – 39.850.000
= 587.796 

Jadi pada tingkat bunga (DF) 19 %, usaha itu layak dilanjutkan atau Go
Artinya bahwa nilai sekarang penerimaan bersih dari masa yang akan datang lebih besar dari pada nilai sekarang Investasi, atau sebesar Rp 587.796,-. 

Perhitungan Net B/C

                             n
                               ∑ PVNCF
                             t = 1
      Net B/C =        
    n
                              ∑ PVI
                               t = 1

=         40.437.796
            39.850.000
    1,01
Net B/C = 1,01 mengandung arti, dari setiap Rp 1,- pengeluaran investasi sanggup menghasilkan penerimaan kas bersih sebesar Rp 1,01,-

Perhitungan IRR
   TABEL 4 Perhitungan IRR Usaha Angkutan Kota
Ta
hun
Arus Kas
Tingkat Bunga 19%
Tingkat  Bunga 21 %

Bersih (NCF)

DF
PVNCF
DF
PVNCF
1
12.540.000
.8403
10.537.362
.8264
10.363.056
2
12.540.000
.7061
8.854.494
.6830
  8.564.820
3
12.540.000
.5934
7.441.236
.5644
  7.077.576
4
12.540.000
.4986
6.252.444
.4665
  5.849.910
5
17.540.000
.4190
7.349.260
.3855
  6.761.670

Jumlah
40.437.796
     
38.617.032

PVI
39.850.000
-
39.850.000

NPV
587.796 
-
1.232.968
IRR   =   i 1 +  ( i 2 – i 1)             NPV1             
                                                 NPV1 + NPV2                                                                                            
                                                                       587.796
IRR =  19 % +  (21 % - 19 %) x                                 
                                                                  587.796 – ( - 1.232.968)

=  19 % + (2 % x 0,3228293178)
=  19 %  +  0,6456586356 %
19,65 %
=  19,65 % > 19 %


Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis manfaat finansial, yaitu dengan menggunakan ukuran atau kriteria NPV, net B/C dan IRR diperoleh hasil sebagai berikut:
(1) NPV > 0
(2) Net B/C atau indeks profitabilitas > 1
 (3) IRR > 19%
Karena itu dapat disimpulkan bahwa, rencana usaha angkutan kota layak untuk dilaksanakan.
TUGAS
Cobalah Anda buat rencana usaha sesuai dengan program keahlian yang Anda dalami.  Lalu hitung kelayakannya berdasarkan kriteria investasi yang telah Anda pelajari.

0 komentar:

Poskan Komentar